Showing posts with label fisiologi tumbuhan. Show all posts
Showing posts with label fisiologi tumbuhan. Show all posts

Monday, February 10, 2014

Masalah di cakrawala untuk tanaman rekayasa genetika?

hama beradaptasi dengan tanaman rekayasa genetika dengan cara tak terduga, para peneliti telah menemukan. Temuan menggarisbawahi pentingnya memonitor dan melawan resistensi hama terhadap tanaman biotek.
Resistance kapas bollworm untuk tanaman kapas serangga - membunuh melibatkan perubahan genetik yang lebih beragam dari yang diharapkan , sebuah laporan tim peneliti internasional dalam jurnal Proceeding of National Academy of Sciences .
Untuk mengurangi semprotan insektisida spektrum luas , yang dapat membahayakan hewan selain hama sasaran , kapas dan jagung telah direkayasa secara genetis untuk menghasilkan racun yang berasal dari bakteri Bacillus thuringiensis , atau Bt .
racun Bt membunuh hama serangga tertentu tetapi tidak berbahaya bagi kebanyakan makhluk lain termasuk manusia. racun Ramah lingkungan ini telah digunakan selama puluhan tahun dalam semprotan oleh perkebunan organik dan sejak tahun 1996 di rekayasa tanaman Bt petani mainstream.
Seiring waktu , para ilmuwan telah mempelajari , mutasi genetik langka yang awalnya resisten terhadap racun Bt menjadi lebih umum sebagai meningkatnya jumlah populasi hama beradaptasi dengan tanaman Bt .
Dalam studi pertama yang membandingkan bagaimana hama berkembang resistensi terhadap tanaman Bt di laboratorium vs lapangan , peneliti menemukan bahwa sementara beberapa yang dari mutasi lab yang dipilih memang terjadi dalam populasi liar , beberapa mutasi yang sangat berbeda dari yang terlihat dalam lab yang penting di lapangan .
Ulat dari bollworm kapas , Helicoverpa armigera , bisa mengunyah berbagai macam tanaman sebelum muncul sebagai ngengat . Spesies ini adalah hama kapas utama di Cina , di mana penelitian dilakukan .
Bruce Tabashnik , kepala departemen entomologi di University of Arizona College of Agriculture dan Life Sciences, yang turut menulis penelitian , menganggap temuan peringatan dini kepada petani , lembaga regulator dan industri bioteknologi .
" Para ilmuwan memperkirakan serangga untuk beradaptasi , tapi kami hanya mencari tahu sekarang bagaimana mereka menjadi resisten di lapangan , " kata Tabashnik .
Untuk menghindari kejutan , peneliti telah terkena populasi ulat kapas kapas untuk Bt racun dalam percobaan laboratorium terkontrol dan mempelajari mekanisme genetik dimana serangga beradaptasi .
" Kami mencoba untuk tetap di depan permainan , " katanya . " Kami ingin mengantisipasi apa gen yang terlibat , sehingga kita dapat secara proaktif mengembangkan strategi untuk mempertahankan khasiat tanaman Bt dan mengurangi ketergantungan terhadap semprotan insektisida . Asumsi implisit adalah apa yang kita pelajari dari lab - dipilih resistance akan berlaku di lapangan . "
Asumsi itu , menurut Tabashnik , belum pernah diuji sebelumnya untuk ketahanan terhadap tanaman Bt .
Sekarang untuk pertama kalinya , tim internasional mengumpulkan bukti genetik dari hama di lapangan , memungkinkan mereka untuk secara langsung membandingkan gen yang terlibat dalam ketahanan populasi liar dan laboratorium - dibesarkan .
Mereka menemukan beberapa mutasi resistensi berunding di lapangan yang sama seperti di laboratorium hama - dipelihara , tetapi beberapa orang lain yang sangat berbeda .
" Kami menemukan persis mutasi yang sama di bidang yang terdeteksi di laboratorium , " kata Tabashnik . " Tapi kami juga menemukan banyak mutasi lain , sebagian besar dari mereka pada gen yang sama dan satu dalam gen yang sama sekali berbeda . "
Sebuah kejutan besar datang ketika tim mengidentifikasi dua terkait , mutasi dominan dalam populasi lapangan . " Dominan " berarti bahwa satu salinan varian genetik sudah cukup untuk memberikan resistensi terhadap Bt toksin . Sebaliknya , mutasi resistansi ditandai sebelumnya dari seleksi lab yang resesif - yang berarti dibutuhkan dua salinan dari mutasi , yang disediakan oleh masing-masing orang tua , untuk membuat serangga resisten terhadap Bt toksin .
" Resistensi dominan lebih sulit untuk mengelola dan tidak dapat segera diperlambat dengan perlindungan , yang sangat berguna ketika resistensi resesif , " kata Tabashnik .
Perlindungan terdiri dari tanaman yang tidak memiliki gen toksin Bt dan dengan demikian memungkinkan kelangsungan hidup serangga yang rentan terhadap racun . Perlindungan yang ditanam di dekat tanaman Bt dengan tujuan menghasilkan cukup rentan terhadap serangga mencairkan populasi serangga tahan , dengan membuatnya tidak mungkin dua serangga tahan akan kawin dan menghasilkan keturunan yang resisten .
Menurut Tabashnik , strategi perlindungan bekerja cemerlang terhadap bollworm merah muda di Arizona , di mana hama ini dialami petani kapas selama satu abad , tetapi sekarang langka .
Mutasi yang dominan ditemukan di Cina melemparkan kunci dalam strategi perlindungan karena keturunan tahan muncul dari perkawinan antara serangga rentan dan tahan .
Dia menambahkan bahwa studi ini akan memungkinkan regulator dan petani untuk mengelola resistensi muncul pada tanaman Bt .
" Kami telah berspekulasi dan menggunakan metode tidak langsung untuk mencoba dan memprediksi apa yang akan terjadi di lapangan . Hanya sekarang resistensi yang mulai muncul di banyak tempat apakah mungkin untuk benar-benar memeriksa resistensi di lapangan . Saya pikir teknik dari studi ini akan diterapkan pada banyak situasi lain di seluruh dunia , dan kami akan mulai mengembangkan pemahaman umum tentang dasar genetik resistensi di lapangan . "
Penelitian saat ini adalah bagian dari kolaborasi yang didanai oleh pemerintah Cina , yang melibatkan selusin ilmuwan di empat lembaga di Cina dan Amerika Serikat Yidong Wu di Nanjing Agricultural University merancang penelitian dan memimpin upaya Cina. Dia menekankan pentingnya kerjasama yang berkelanjutan untuk mengatasi resistensi terhadap tanaman Bt , yang merupakan masalah besar di Cina . Dia juga menunjukkan bahwa penemuan resistance yang dominan akan mendorong komunitas ilmiah untuk memikirkan kembali strategi perlindungan .
Tabashnik mengatakan China adalah produsen kapas top dunia , dengan sekitar 16 miliar pon kapas per tahun . India adalah nomor dua , diikuti oleh Amerika Serikat , yang memproduksi sekitar setengah sebanyak kapas China .
Pada tahun 2011 , petani di seluruh dunia menanam 160 juta hektar kapas Bt dan jagung Bt . Persentase kapas ditanami kapas Bt mencapai 75 persen di Amerika Serikat pada tahun 2011 , namun telah melampaui 90 persen sejak tahun 2004 di China utara , di mana sebagian besar kapas China tumbuh .
Para peneliti melaporkan bahwa mutasi yang resistan - berunding di kapas bollworm tiga kali lebih umum di China utara daripada di daerah barat laut China di mana kurang kapas Bt telah ditanam .
Bahkan di China utara , bagaimanapun , petani belum melihat perlawanan muncul lagi, Tabashnik mengatakan, karena hanya sekitar 2 persen dari bollworms kapas ada resisten .

" Sebagai petani , jika kau membunuh 98 persen hama kapas Bt , Anda tidak akan melihat apa-apa . Namun studi ini memberitahu kita ada masalah di cakrawala . "

Tuesday, February 4, 2014

JURNAL PENELITIAN IMBIBISI BIJI

         Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya imbibisi pada kacang merah dan padi adalah tekanan, kulit biji, dan substratnya. Semakin kecil tekanan benih daripada tekanan larutan, maka semakin besar juga proses imbibisi. kulit biji tipis, mengandung subsrat yang mudah larut dalam air dan tidak mudah kering pada tanaman yang biasanya terjadi. Hal ini sesuai dengan literatur Poedjiadi dan Suprayanti (2009) yang menyatakan bahwa perpindahan air dari tekanan yang tinggi ke tekanan rendah dan disebut tekanan osmosis.
         Faktor yang mempengaruhi ketidakakuratan data disebabkan oleh kurangnya perhatian yang mengakibatkan potensi air biji rendah akan menghambatproses imbibisi biji, dimana hal ini terjadi pada biji yang kering dan keriput. Selain itu juga dipengaruhi komponen absorpsi dan substansi biji. Hal ini sesuai dengan literatur Kartasapoetra (2004) yang menyatakan bahwa kadar air benih pada kondisi dipengaruhi oleh factor kelembapan relative yang dimanfaatkan secara gambar grafis antara kadar air benih dan lembab relative.
         Perendaman biji yang lebih baik adalah pada waktu 48 jam. Hal ini karena waktu tersebut pengabsorbsian air oleh biji diharapkan mencapai 90% dan proses imbibisi terjadi. Hal ini sesuai dengan literature Milthrope (1988) yang menyatakan bahwa kadar air diatas 14% akan mengakibatkan biji berkecambah dan pada proses ini mengalami imbibisi dari perkecambahan.
         Berat padi yang direndam selama 48 jam bertambah sebesar 18 gr, sedangkan pada kacang merah 25,5gr. Hal ini karena kacang merah mengandung protein dan padi mengandung zat tepung. Zat tepung lebih mudah larut,tetapi padi memiliki kulit yang tipis, sehingga lebih banyak menyerap air dan biji bertambah besar. Oleh karena itu, air yang diserap dapat menuju embrio dan endosperm.
         Pada percobaan diperoleh padi memiliki pertambahan beratdari hasilpenyerapan karena fluktuasi pertambahan beratnya tiap satuan waktu tak naik melainkan beritme naik. Hal ini dikarenakan oleh radikula. Hal itu sesuai dengan literature Wilkins (1994) yang menyatakan bahwa penyerapan air akan meningkat pada saat munculnya radikula, penyimpanan dan kecambah yang sedang tumbuh.
         Pada percobaan diperoleh bahwa persentase kadar air tertinggi pada padi diperlakuan 48 jam sebesar 44,44% sednagkan pada kacang merah pada perlakuan 48 jam sebesar 60,7%. Hal ini dikarenakan penyerapan air oleh biji kacang merah lebih fluktuatif daripada penyerapan air pada biji padi. Hal ini sesuai dengan literature Kartasapoetra (2004) yang menyatakan bahwa penyerapan kadar air oleh benih dipengaruhi oleh kelembaban relative tiap waktu perendaman.
         Dari hasil percobaan diperoleh hasil bahwa biji padi persen kadar air tertinggi adalah pada perendaman selama 48 jam sebesar 44,44% dan terkecil pada perendaman 1 jam sebesar 28,57%. Hal ini terjadi karena pada kondisi berbeda memungkinkan penyerapan air yang berbeda, sehingga variasi perbedaan, sehingga variasi perbedaan besar. Hal ini sesuai dengan literatur Wilkins (1994) yang menyatakan bahwa penyerapan air terjadi samapi sel/jaringan yang mempunyai kandungan air 2% samapi dengan 90%.

         Dari hasil percobaan daya hisap yang paling tinggi pada biji kacang merah yakni 60,7 pada perendaman 48 jam. Hal ini terjadi karena kacang merah memiliki kulit biji yang tipis dan luas penampang yang besar sehingga memungkinkan masuknya air terabsorbsi banyak. Hal ini sesuai dengan literatur Lakitan (1998) yang menyatakan bahwa air yang tersedia dan akar memungkinkan terjadinya absorbs yang memungkinkan masuknya air hingga embrio dan endosperm.

JURNAL : IMBIBISI BIJI

IMBIBISI BIJI
               Proses imbibisi dipengaruhi oleh susunan kimiawi kulit dan cadangan makanan benih, umur benih, tekanan osmosis air, permeabilitas kulit beih dan suhu. Laju imbibisi pada awal proses imbibisi berlangsung relative cepat hingga sampai pada titik tertentu laju ini akan menurun (Kuswanto, 1996).
               Pada hakikatnya osmosis adalah suatu proses difusi. Para ahli kimia mengatakan bahwa osmosis adalah difusi dari setiap pelarut melalui suatu selaput yang permeable secara differensial.membran sel yang meloloskan molekul tertentu, tetapi menghalangi molekul ion disebut permeable secara diferensial. Pelarut universal adalah air (Kimball, 1983).
               Air merupakan suatu molekul yang sederhana, terdiri dari 1 atom oksigen dan 2 atom hydrogen, sehingga berat molekulnya hanya 18g/mol. Terlepas dari kesederhanaannya kompisisi atom penyusunnya dan ukuran molekulnya, air merupakan dan mempunyai beberapa karakteristik yang unik. Karakteristik tersebut disebabkan karena rangkaian kedua atom H pada atom O tidak membentuk garis lurus. Rangkaian ini membentuk sudut 105o. besarnya sudut ini selalu sama jika air dalam bentuk padat (es),tetapi agar bervariasi jika air dalam bentuk cair. Walaupun rata-rata besarnya sudut tetap 105o (Lakitan, 1998).
               Imbibisi merupakan penyusupan atau penyerapan air dengan ruangan antar dinding selnya akan mengembang, masuknya air pada biji saat berkecambah dan biji serealia yang direndam pada beberapa jam (Pandey dan Sunha, 1995)..

               Imbibisi merupakan penyusupan atau peresapan air dengan ruangan antar dinding sel, sehingga dinding selnya akan mengembang, masuknya air pada biji saat berkecambah dan biji serealia yang direndam pada beberapa jam
(Pandey dan Sunha, 1995).
               Proses perkecambahan benih merupakan suatu rangkaian kompleks dari perubahan morfologi, fisiologi, dan biokimia. Tahap pertama suatu perkecambahan benih dimulai dengan proses penyerapan air benih, melunaknya kulit benih dan hidrosi dari protoplasma. Tahap kedua dimulai dengan kegiatan-kegiatan sel dan enzim-enzim serta naiknya tingkat respirasi benih tahap ketiga merupakan tahap dimana terjadi penguraian bahan-bahan seperti karbohidrat, lemak dan protein menjadi bentuk-bentuk yang melarut dan ditranslokasikan ke titik tumbuh. Tahap keempat adalah asimilasi dari bahan-bahan yang telah diuraikan tadi di daerah meristematik untuk menghasilkan energy bagi kegiatan oembentukan komponen dan pertumbuhan sel-sel baru. Tahap kelima adalah pertumbuhan kecambah melalui proses pembelahan, pembesaran, dan pembagian sel-sel (Sutopo, 1998).
               Air yang cukup selam proses imbibisi dan perkecambhan dan air tersebut dapat mencapai embryo dan endosperm/daun lembaga. Hal ini terjadi karena air tersebut dapat mencapai melalui kulit benih serta air tersedia disekitar benih (around) dan berhubungan dengan benih (Vicinity) (Lakitan, 1998).
               Penyerapan air oleh benih yang terjadi pada tahap pertama biasanya berlangsung sampai jaringan mempunyai kandungan air 2% sampai 90% dan akan mengikat lagi pada saat munculnya radicle sampai jaringan penyimpanan dan kecambah yang sedang tumbuh mempunyai kandungan air 90% (Wilkins, 1994).
               Sebagai pelarut zat-zat pada makanan dalam tubuh ialah air. Oleh karena itu osmosis yang terjadi ialah proses perpindahan air melalui membrane sel. Perpindahan air berlangsung dari larutan yang encer kedalam larutan yang lebih pekat dan terjadi tekanan dari zat cair yang disebut tekanan osmosis. Sel dalam tubuh dikelilingi oleh cairan tertentu yang mempunyai tekanan osmosis yang sama dengan plasma sel. Dalam hal ini kedua cairan itu disebut isotonik (Poedjiadi dan Supriyanti, 2009).
               Benih dengan kadar iar dibawah sepuluh persen akan dapat bertahan lebih lama apabila CO2 pada udara disekelilingi benih tersebut kenyataannya lebih tinggi daripada O2 pada udara itu. Benih dengan kadar air diatas 14% akan lebih pendek umurnya karena uap air disekeliling benih itu akan menurunkan O2 nya dan menaikkan CO2  pada udara itu (Milthorpe dan Moorby, 1988).
               Walaupun air dapat bertindak sebagai pereaksi (reaktan) atau sebagai produk suatu reaksi kimia, tetapi yang lebih penting adalah air menciptakan lingkungan yang memungkinkan untuk berlangsungnya berbagai reaksi biokimia dalam sel tumbuhan (Lakitan, 2008).
               Untuk mengukur atau memperkirakan kadar air benih pada tiap kelembapan relatif, lazimnya dimanfaatkan gambaran grafis dari hubungan antara kadar air benih dan lembab relatif lingkungannya pada suatu waktu, pada suhu yang konstan (Hygroscopic Equilibrium Curve) yang disebut isothermal absorpsi. Kurva-kurvanya ditetapkan dengan cara mengukur absorpsi atau desorbsi pada kelembapan relatif yang berurutan (Kartasapoetra, 2004).
               Perlu diingat bahwa struktur dinding sel dan membrane sel berbeda. Membran memungkinkan molekul air melintas lebih cepat paripada unsur terlarut. Dinding sel primer biasanya sangat permeable terhadap keduanya.memang membrane sel tumbuhan memungkinkan berlangsungnya osmosis., tetapi dinding sel yang tegar itulah yang menimbulkan tekanan sel (Salisbury dan Ross, 1995).



Sunday, December 29, 2013

Jurnal : Laporan Hasil dan Pembahasan Kuoesien Respirasi

HASIL DASA
HASIL DAN PEMBAHASAN
Komoditi
Da (mm)
Db (mm)
Jagung (Zea mays L.)
57 mm
122 mm
Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.)
53 mm
111 mm

Perhitungan
Komoditi : Jagung (Zea mays L.)
Va Jagung = πr Da     
                  = 3,14(2,5)(57)
                  = 447,45
Vb  Jagung = πr Db   
                  = 3,14(2,5)(122)
                  = 957,7
Pa Jagung = Da = 57 =  4,38 mm
                     13    13

Pb Jagung = Da = 122  = 9,38 mm
                     13     13

Va’ Jagung  =  Va jagung + Va (760-Pa)                  
                         760

        =  447,45 + 447,45 (760-4,38)
                                      760
                     =   338209,59
                              760

                     =   445,01
Vb’ Jagung  =  Vb jagung + Vb (760-Pb)                 
                         760

        =  957,7 + 957,7 (760-9,38)
                                      760
                     =  957,7 +718868,774
                                    760
                     =  947,14
Maka, KR jagung =  Vb’ – Va’
                                       Vb
                             = 947,14 – 445,01
                                       957,7
                              = 0,53
Komoditi : Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.)
Va Kacang Hijau  = πr Da     
                              = 3,14(2,5)(53)
                              = 416,26
Vb  Kacang Hijau = πr Db     
                              = 3,14 (2,5) (111)
                              = 871,79
Pa Kacang Hijau  = Da = 53  = 4,07 mm
                                13     13

Pb Kacang Hijau  = Da = 111  = 8,53 mm
                                13      13

Va’ Kacang Hijau   =  Va kacang hijau + Va (760-Pa)                     
                                        760

                    =  416,26 + 416,26 (760-4,07)
                                                       760
                                =  416,26 + 416,26(755,93)
                                                760
                                =  414,36
Vb’ Kacang Hijau   =  Vb kacang hijau + Vb (760-Pb)                    
                              760

                    =  871,79 + 871,79 (760-8,53)
                                                       760
                                 =  871,79 + 871,79 (751,47)
                                                        760
                                 =  863,15
Maka KR Kacang Hijau  = Vb’ – Va’
                                                 Vb

                                         = 863,15 – 414,36
                                                   871,79
                                         = 0,51
Pembahasan
            Berdasarkan hasil praktikum, diperoleh KR jagung (Zea mays L.) adalah sebesar 0,53 . Hal ini dikarenakan bahwa jangung mengandung Karbohidrat yang tinggi dan kandungan lemak yang rendah sehingga laju respiasi tinggi. Hal ini sesuai dengan literatur Salisburi dan Ross (1991) yang menyatakan bahawa pada dasarnya, proses respirasi bertujuan untuk menghasilkan ernergi yang dipengaruhi oleh ketersediaan substrat. Substrat pada tanaman adalah hal yang penting dalam melakukan respirasi . Tumbuhan yang memiliki kandungan substrat yang banyak maka laju respirasinya akan meningkat
Berdasarkan hasil praktikum, didapat KR kacang  hijau (Phaseolus radiates L.) adalah sebesar 0,51. Hal ini karena kacang hijau mengandung protein dan lemak yang tinggi sedangkan faktor yang mempengaruhi tingginya laju respirasi adalah pada substrat karbohidrat. Hal ini sesuai dengan literatur Pandey dan Sinha (1995) yang menyatakan bahwa Nilai KR untuk laju respirasi substrat karbohidrat = 1, protein < 1 (0,8 - 0,9), lemak < 1 (0,7) dan asam organik > 1 (1,33)
                 Banyak Faktor yang berpengaruh terhadap laju respirasi. Mulai dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor ini dapat meliputi perkembangan organ, suhu, ketersediaan O2, substrat, dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan literatur Pantastico (1993) yang menyatakann bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi laju respirasi terbagi dua, yaitu: 1) Faktor internal  Semakin tinggi tingkat perkembangan organ, semakin banyak jumlah CO2 yang dihasilkan. Susunan kimiawi jaringan mempengaruhi laju respirasi, pada buah-buahan yang banyak mengandung karbohidrat, maka laju respirasi akan semakin cepat. Produk yang lebih kecil ukurannya mengalami laju respirasi lebih cepat daripada buah yang besar, karena mempunyai permukaan yang lebih luas yang bersentuhan dengan udara sehingga lebih banyak O2 berdifusi ke dalam jaringan. Pada produk-produk yang memiliki lapisan kulit yang tebal, laju respirasinya rendah, dan pada jaringan muda proses metabolisme akan lebih aktif 2) Faktor eksternal Umumnya laju respirasi meningkat 2-2,5 kali tiap kenaikan 10°C. Pemberian etilen pada tingkat pra-klimaterik, akan meningkatkan respirasi buah klimaterik. Kandungan oksigen pada ruang penyimpanan perlu diperhatikan karena semakin tinggi kadar oksigen, maka laju respirasi semakin cepat. Konsentrasi CO2 yang sesuai dapat memperpanjang umur simpan buah-buahan dan sayuran karena terjadi gangguan pada respirasinya.
                 Bagian-bagian tumbuhan yang melakukan respirasi adalah ujung batang, ujung akar, tunas, biji dan kecambah. Namun dalam hal ini bagian yang dipakai adalah kecambah . Bagian ini dipakai karena kecambah adalah yang paling aktif melakukan respirasi. Hal ini sesuai dengan literatur Putra (2010) yang menyatakan bahwa kecambah melakukan pernafasan untuk mendapatkan energi yang dilakukan dengan melibatkan gas oksigen (O2) sebagai bahan yang diserap atau diperlukan dalam menghasilkan karbondioksida (CO2), air (H2O) dan sejumlah energi.
                 NaOH merupakan larutan yang digunakan untuk mengikat CO2 sebab bersifat higroskopis. Bergeraknya larutan methylblue setelah penumpahan NaOH merupakan indikator akan berlangsungnya respirasi pada kecambah. Selain itu NaOH akan mengikat CO2 yang akan berpengaruh terhadap nilai KR yang dihasilkan. Adapun reaksi pengikatannya karbondioksida oleh NaOH dalah 2NaOH + CO2             Na2CO3 + H2O. Hal ini sesuai dengan literatur Bhat (1999) yang menyatakan bahwa Dalam kondisi alkali atau basa, pembentukan bikarbonat dapat diabaikan karena bikarbonat bereaksi dengan OH- membentuk CO32-  .
                Dalam prinsip kerjanya, yang dipakai pada prosespercobaan kuosien respirasi adalah kecambah. Pertama NaOH akan ditumpahkan pada kecambah didalam erlenmeyer untuk mengikat karbondioksida dan mempercepat reaksi respirasi yang terjadi pada kecambah. Proses penguapan larutan yang terjadi didalam erlenmeyer menyebabkan terjadinya penurunan tekanan hingga terjadi kenaikan methylblue pada pipa kapiler. Hal ini sesuai dengan literatur Tjitrosomo (1980) yang menyatakan bahwa pada proses respirasi oksigen digunakanan karbondioksida dibebaskan. Penambahan larutan dalam menyebabkan pengikatan yang terjadi pada karbondioksida dan kurang dalam cahaya kedua proses itu berlangsung dalam ikatan yang sama dalam sel tumbuhan.
KESIMPULAN

1.             Nilai   Kuosien  Respirasi   kecambah jagung  (Zea mays L.)   adalah  0,53.
2.             Nilai Kuosien Respirasi kecambahkacang hijau (Phaseolus radiatus L.) adalah 0,51.
3.             Faktor-faktor yang mempengaruhi laju respirasi terdiri dari faktor internal yang meliputi perkembangan organ, susunan kimiawi jaringan, jenis substrat, usia tanaman. Dan faktor eksternal meliputi suhu dan ketersediaan Oksigen.
4.             Perbedaan antara KR kacang hijau < KR jagung hal ini terjadi karena perbedaan substrat yang menjadi kandungan dari keduanya.
5.             Kecambah kacang hijau dan kecambah jagung dipilih sebagai bahan percobaan, sebab kecambah meupakan tanaman kecil yang aktif melakukan respirasi.
6.             Adapun reaksi pengikatan CO2 yang dilakukan oleh NaOH  adalah  2NaOH   +   CO2             Na2CO3 + H2O. Proses tersebut mengakibatkan tekanan dalam erlenmeyer menurun dan methylblue akan naik ke pipa kapiler.
Saran

Sebaiknya dalam praktikum yang dilaksanakan, digunakan kecambah yang baik dan dilakukan pengukuran kenaikan methylblue kepipa kapiler secara teliti agar didapati nilai kuosien respirasi yang ssesuai dengan kandungan masing-asing substrat kecambah.