Nasi putih meningkatkan risiko diabetes tipe 2, klaim studi. risiko diabetes tipe 2 meningkat secara signifikan jika nasi putih dimakan secara teratur, klaim sebuah penelitian yang diterbitkan hari ini di bmj.com.
Para penulis dari Harvard School of Public Health melihat studi sebelumnya dan bukti hubungan antara makan nasi putih dan risiko diabetes tipe 2 . Studi mereka berusaha untuk menentukan apakah risiko ini tergantung pada jumlah beras yang dikonsumsi dan jika asosiasi kuat bagi penduduk Asia , yang cenderung makan nasi lebih putih dari dunia Barat .
Para penulis menganalisis hasil empat studi : dua di negara-negara Asia ( China dan Jepang ) dan dua di negara-negara Barat ( Amerika Serikat dan Australia ) . Semua peserta bebas diabetes di studi dasar .
Beras putih adalah jenis yang dominan dari beras yang dimakan di seluruh dunia dan memiliki nilai GI yang tinggi . Diet GI tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko terkena diabetes tipe 2 . Jumlah rata-rata beras yang dimakan bervariasi antara negara-negara Barat dan Asia , dengan penduduk Cina makan rata-rata empat porsi sehari , sementara orang-orang di dunia Barat makan kurang dari lima porsi dalam seminggu .
Sebuah tren yang signifikan ditemukan di kedua negara Asia dan Barat dengan hubungan yang lebih kuat ditemukan di antara wanita dibandingkan pria . Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa nasi lebih putih dimakan , semakin tinggi risiko diabetes tipe 2 : penulis memperkirakan bahwa risiko diabetes tipe 2 meningkat sebesar 10 % dengan masing-masing meningkat porsi nasi putih ( dengan asumsi 158g per porsi ) .
Nasi putih memiliki kandungan rendah nutrisi dari beras merah termasuk serat , magnesium dan vitamin , beberapa di antaranya berhubungan dengan rendahnya risiko diabetes tipe 2 . Para penulis melaporkan , karena itu, bahwa konsumsi tinggi nasi putih dapat menyebabkan peningkatan risiko karena rendahnya asupan nutrisi.
Sebagai kesimpulan, penulis menyatakan bahwa " asupan nasi putih lebih tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2. " Hal ini berlaku untuk kedua budaya Asia dan Barat , meskipun karena temuan menunjukkan bahwa semakin banyak beras yang dimakan semakin tinggi risiko , diperkirakan bahwa negara-negara Asia berada pada risiko yang lebih tinggi . Para penulis merekomendasikan makan biji-bijian , bukan karbohidrat olahan seperti nasi putih , yang mereka harap akan membantu memperlambat epidemi diabetes global.
Dalam editorial yang menyertai , Dr Bruce Neal dari University of Sydney menunjukkan bahwa lebih banyak, penelitian yang lebih besar diperlukan untuk mendukung hipotesis penelitian bahwa nasi putih meningkatkan kemungkinan mendapatkan diabetes tipe 2 .
ilmu ilmu pertanian yang berkelanjutan menuju pertanian yang lebih modern
Showing posts with label Fisiologi. Show all posts
Showing posts with label Fisiologi. Show all posts
Tuesday, February 11, 2014
Tuesday, February 4, 2014
JURNAL PENELITIAN IMBIBISI BIJI
Faktor-faktor yang mempengaruhi
terbentuknya imbibisi pada kacang merah dan padi adalah tekanan, kulit biji,
dan substratnya. Semakin kecil tekanan benih daripada tekanan larutan, maka
semakin besar juga proses imbibisi. kulit biji tipis, mengandung subsrat yang
mudah larut dalam air dan tidak mudah kering pada tanaman yang biasanya terjadi.
Hal ini sesuai dengan literatur Poedjiadi dan Suprayanti (2009) yang menyatakan
bahwa perpindahan air dari tekanan yang tinggi ke tekanan rendah dan disebut
tekanan osmosis.
Faktor yang mempengaruhi
ketidakakuratan data disebabkan oleh kurangnya perhatian yang mengakibatkan
potensi air biji rendah akan menghambatproses imbibisi biji, dimana hal ini
terjadi pada biji yang kering dan keriput. Selain itu juga dipengaruhi komponen
absorpsi dan substansi biji. Hal ini sesuai dengan literatur Kartasapoetra
(2004) yang menyatakan bahwa kadar air benih pada kondisi dipengaruhi oleh
factor kelembapan relative yang dimanfaatkan secara gambar grafis antara kadar
air benih dan lembab relative.
Perendaman biji yang lebih baik adalah
pada waktu 48 jam. Hal ini karena waktu tersebut pengabsorbsian air oleh biji
diharapkan mencapai 90% dan proses imbibisi terjadi. Hal ini sesuai dengan
literature Milthrope (1988) yang menyatakan bahwa kadar air diatas 14% akan mengakibatkan
biji berkecambah dan pada proses ini mengalami imbibisi dari perkecambahan.
Berat padi yang direndam selama 48 jam
bertambah sebesar 18 gr, sedangkan pada kacang merah 25,5gr. Hal ini karena
kacang merah mengandung protein dan padi mengandung zat tepung. Zat tepung
lebih mudah larut,tetapi padi memiliki kulit yang tipis, sehingga lebih banyak
menyerap air dan biji bertambah besar. Oleh karena itu, air yang diserap dapat
menuju embrio dan endosperm.
Pada percobaan diperoleh padi memiliki
pertambahan beratdari hasilpenyerapan karena fluktuasi pertambahan beratnya
tiap satuan waktu tak naik melainkan beritme naik. Hal ini dikarenakan oleh
radikula. Hal itu sesuai dengan literature Wilkins (1994) yang menyatakan bahwa
penyerapan air akan meningkat pada saat munculnya radikula, penyimpanan dan
kecambah yang sedang tumbuh.
Pada percobaan diperoleh bahwa
persentase kadar air tertinggi pada padi diperlakuan 48 jam sebesar 44,44%
sednagkan pada kacang merah pada perlakuan 48 jam sebesar 60,7%. Hal ini
dikarenakan penyerapan air oleh biji kacang merah lebih fluktuatif daripada
penyerapan air pada biji padi. Hal ini sesuai dengan literature Kartasapoetra
(2004) yang menyatakan bahwa penyerapan kadar air oleh benih dipengaruhi oleh
kelembaban relative tiap waktu perendaman.
Dari hasil percobaan diperoleh hasil
bahwa biji padi persen kadar air tertinggi adalah pada perendaman selama 48 jam
sebesar 44,44% dan terkecil pada perendaman 1 jam sebesar 28,57%. Hal ini
terjadi karena pada kondisi berbeda memungkinkan penyerapan air yang berbeda,
sehingga variasi perbedaan, sehingga variasi perbedaan besar. Hal ini sesuai
dengan literatur Wilkins (1994) yang menyatakan bahwa penyerapan air terjadi
samapi sel/jaringan yang mempunyai kandungan air 2% samapi dengan 90%.
Dari hasil percobaan daya hisap yang
paling tinggi pada biji kacang merah yakni 60,7 pada perendaman 48 jam. Hal ini
terjadi karena kacang merah memiliki kulit biji yang tipis dan luas penampang
yang besar sehingga memungkinkan masuknya air terabsorbsi banyak. Hal ini
sesuai dengan literatur Lakitan (1998) yang menyatakan bahwa air yang tersedia
dan akar memungkinkan terjadinya absorbs yang memungkinkan masuknya air hingga
embrio dan endosperm.
JURNAL : IMBIBISI BIJI
IMBIBISI BIJI
Proses imbibisi dipengaruhi oleh
susunan kimiawi kulit dan cadangan makanan benih, umur benih, tekanan osmosis
air, permeabilitas kulit beih dan suhu. Laju imbibisi pada awal proses imbibisi
berlangsung relative cepat hingga sampai pada titik tertentu laju ini akan
menurun (Kuswanto, 1996).
Pada hakikatnya osmosis adalah
suatu proses difusi. Para ahli kimia mengatakan bahwa osmosis adalah difusi
dari setiap pelarut melalui suatu selaput yang permeable secara
differensial.membran sel yang meloloskan molekul tertentu, tetapi menghalangi
molekul ion disebut permeable secara diferensial. Pelarut universal adalah air
(Kimball, 1983).
Air merupakan suatu molekul yang
sederhana, terdiri dari 1 atom oksigen dan 2 atom hydrogen, sehingga berat
molekulnya hanya 18g/mol. Terlepas dari kesederhanaannya kompisisi atom
penyusunnya dan ukuran molekulnya, air merupakan dan mempunyai beberapa
karakteristik yang unik. Karakteristik tersebut disebabkan karena rangkaian
kedua atom H pada atom O tidak membentuk garis lurus. Rangkaian ini membentuk
sudut 105o. besarnya sudut ini selalu sama jika air dalam bentuk
padat (es),tetapi agar bervariasi jika air dalam bentuk cair. Walaupun
rata-rata besarnya sudut tetap 105o (Lakitan, 1998).
Imbibisi merupakan penyusupan
atau penyerapan air dengan ruangan antar dinding selnya akan mengembang,
masuknya air pada biji saat berkecambah dan biji serealia yang direndam pada
beberapa jam (Pandey dan Sunha, 1995)..
Imbibisi merupakan penyusupan
atau peresapan air dengan ruangan antar dinding sel, sehingga dinding selnya
akan mengembang, masuknya air pada biji saat berkecambah dan biji serealia yang
direndam pada beberapa jam
(Pandey
dan Sunha, 1995).
Proses perkecambahan benih
merupakan suatu rangkaian kompleks dari perubahan morfologi, fisiologi, dan
biokimia. Tahap pertama suatu perkecambahan benih dimulai dengan proses
penyerapan air benih, melunaknya kulit benih dan hidrosi dari protoplasma.
Tahap kedua dimulai dengan kegiatan-kegiatan sel dan enzim-enzim serta naiknya
tingkat respirasi benih tahap ketiga merupakan tahap dimana terjadi penguraian
bahan-bahan seperti karbohidrat, lemak dan protein menjadi bentuk-bentuk yang
melarut dan ditranslokasikan ke titik tumbuh. Tahap keempat adalah asimilasi dari
bahan-bahan yang telah diuraikan tadi di daerah meristematik untuk menghasilkan
energy bagi kegiatan oembentukan komponen dan pertumbuhan sel-sel baru. Tahap
kelima adalah pertumbuhan kecambah melalui proses pembelahan, pembesaran, dan
pembagian sel-sel (Sutopo, 1998).
Air yang cukup selam proses
imbibisi dan perkecambhan dan air tersebut dapat mencapai embryo dan
endosperm/daun lembaga. Hal ini terjadi karena air tersebut dapat mencapai
melalui kulit benih serta air tersedia disekitar benih (around) dan berhubungan
dengan benih (Vicinity) (Lakitan, 1998).
Penyerapan air oleh benih yang
terjadi pada tahap pertama biasanya berlangsung sampai jaringan mempunyai
kandungan air 2% sampai 90% dan akan mengikat lagi pada saat munculnya radicle
sampai jaringan penyimpanan dan kecambah yang sedang tumbuh mempunyai kandungan
air 90% (Wilkins, 1994).
Sebagai pelarut zat-zat pada
makanan dalam tubuh ialah air. Oleh karena itu osmosis yang terjadi ialah
proses perpindahan air melalui membrane sel. Perpindahan air berlangsung dari
larutan yang encer kedalam larutan yang lebih pekat dan terjadi tekanan dari
zat cair yang disebut tekanan osmosis. Sel dalam tubuh dikelilingi oleh cairan
tertentu yang mempunyai tekanan osmosis yang sama dengan plasma sel. Dalam hal
ini kedua cairan itu disebut isotonik (Poedjiadi dan Supriyanti, 2009).
Benih dengan kadar iar dibawah
sepuluh persen akan dapat bertahan lebih lama apabila CO2 pada udara
disekelilingi benih tersebut kenyataannya lebih tinggi daripada O2 pada
udara itu. Benih dengan kadar air diatas 14% akan lebih pendek umurnya karena
uap air disekeliling benih itu akan menurunkan O2 nya dan menaikkan
CO2 pada udara itu (Milthorpe
dan Moorby, 1988).
Walaupun air dapat bertindak
sebagai pereaksi (reaktan) atau sebagai produk suatu reaksi kimia, tetapi yang
lebih penting adalah air menciptakan lingkungan yang memungkinkan untuk
berlangsungnya berbagai reaksi biokimia dalam sel tumbuhan (Lakitan, 2008).
Untuk mengukur atau memperkirakan
kadar air benih pada tiap kelembapan relatif, lazimnya dimanfaatkan gambaran
grafis dari hubungan antara kadar air benih dan lembab relatif lingkungannya
pada suatu waktu, pada suhu yang konstan (Hygroscopic Equilibrium Curve) yang
disebut isothermal absorpsi. Kurva-kurvanya ditetapkan dengan cara mengukur
absorpsi atau desorbsi pada kelembapan relatif yang berurutan (Kartasapoetra,
2004).
Perlu diingat bahwa struktur
dinding sel dan membrane sel berbeda. Membran memungkinkan molekul air melintas
lebih cepat paripada unsur terlarut. Dinding sel primer biasanya sangat
permeable terhadap keduanya.memang membrane sel tumbuhan memungkinkan
berlangsungnya osmosis., tetapi dinding sel yang tegar itulah yang menimbulkan
tekanan sel (Salisbury dan Ross, 1995).
Sunday, December 29, 2013
Jurnal : Laporan Hasil dan Pembahasan Kuoesien Respirasi
Komoditi
|
Da (mm)
|
Db (mm)
|
Jagung (Zea mays L.)
|
57 mm
|
122 mm
|
Kacang Hijau (Phaseolus radiatus
L.)
|
53 mm
|
111 mm
|
Perhitungan
Komoditi
: Jagung (Zea mays L.)
Va
Jagung = πr Da
= 3,14(2,5)(57)
= 447,45
Vb Jagung = πr Db
= 3,14(2,5)(122)
= 957,7
Pa
Jagung = Da = 57 = 4,38 mm
13 13
Pb Jagung = Da
= 122 = 9,38 mm
13 13
Va’ Jagung = Va
jagung + Va (760-Pa)
760
=
447,45 + 447,45 (760-4,38)
760
= 338209,59
760
= 445,01
Vb’
Jagung =
Vb jagung + Vb (760-Pb)
760
= 957,7 + 957,7 (760-9,38)
760
= 957,7
+718868,774
760
= 947,14
Maka,
KR jagung = Vb’ – Va’
Vb
= 947,14 – 445,01
957,7
= 0,53
Komoditi
: Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.)
Va
Kacang Hijau = πr Da
=
3,14(2,5)(53)
= 416,26
Vb Kacang Hijau = πr Db
= 3,14 (2,5) (111)
= 871,79
Pa Kacang
Hijau = Da = 53 = 4,07 mm
13
13
Pb Kacang
Hijau = Da = 111 = 8,53 mm
13
13
Va’ Kacang
Hijau =
Va kacang hijau + Va (760-Pa)
760
=
416,26 + 416,26 (760-4,07)
760
= 416,26 + 416,26(755,93)
760
=
414,36
Vb’ Kacang
Hijau =
Vb kacang hijau + Vb (760-Pb)
760
=
871,79 + 871,79 (760-8,53)
760
= 871,79
+ 871,79 (751,47)
760
= 863,15
Maka
KR Kacang Hijau = Vb’ – Va’
Vb
= 863,15 – 414,36
871,79
= 0,51
Pembahasan
Berdasarkan hasil praktikum, diperoleh KR jagung (Zea mays L.) adalah sebesar 0,53 . Hal ini dikarenakan bahwa jangung
mengandung Karbohidrat yang tinggi dan kandungan lemak yang rendah sehingga
laju respiasi tinggi. Hal ini sesuai dengan literatur Salisburi dan Ross (1991)
yang menyatakan bahawa pada dasarnya, proses respirasi bertujuan untuk
menghasilkan ernergi yang dipengaruhi oleh ketersediaan substrat. Substrat pada
tanaman adalah hal yang penting dalam melakukan respirasi . Tumbuhan yang
memiliki kandungan substrat yang banyak maka laju respirasinya akan meningkat
Berdasarkan hasil
praktikum, didapat KR kacang hijau (Phaseolus
radiates L.) adalah sebesar 0,51.
Hal ini karena kacang hijau mengandung protein dan lemak yang tinggi sedangkan
faktor yang mempengaruhi tingginya laju respirasi adalah pada substrat
karbohidrat. Hal ini sesuai dengan literatur Pandey dan Sinha (1995) yang
menyatakan bahwa Nilai KR untuk laju respirasi substrat karbohidrat = 1,
protein < 1 (0,8 - 0,9), lemak < 1 (0,7) dan asam organik > 1 (1,33)
Banyak
Faktor yang berpengaruh terhadap laju respirasi. Mulai dari faktor internal dan
faktor eksternal. Faktor ini dapat meliputi perkembangan organ, suhu,
ketersediaan O2, substrat, dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan
literatur Pantastico (1993) yang menyatakann bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi laju respirasi terbagi dua, yaitu: 1) Faktor internal Semakin tinggi tingkat perkembangan organ,
semakin banyak jumlah CO2 yang dihasilkan. Susunan kimiawi jaringan
mempengaruhi laju respirasi, pada buah-buahan yang banyak mengandung
karbohidrat, maka laju respirasi akan semakin cepat. Produk yang lebih kecil
ukurannya mengalami laju respirasi lebih cepat daripada buah yang besar, karena
mempunyai permukaan yang lebih luas yang bersentuhan dengan udara sehingga
lebih banyak O2 berdifusi ke dalam jaringan. Pada produk-produk yang
memiliki lapisan kulit yang tebal, laju respirasinya rendah, dan pada jaringan
muda proses metabolisme akan lebih aktif 2) Faktor eksternal Umumnya laju
respirasi meningkat 2-2,5 kali tiap kenaikan 10°C. Pemberian etilen pada
tingkat pra-klimaterik, akan meningkatkan respirasi buah klimaterik. Kandungan
oksigen pada ruang penyimpanan perlu diperhatikan karena semakin tinggi kadar
oksigen, maka laju respirasi semakin cepat. Konsentrasi CO2 yang
sesuai dapat memperpanjang umur simpan buah-buahan dan sayuran karena terjadi
gangguan pada respirasinya.
Bagian-bagian
tumbuhan yang melakukan respirasi adalah ujung batang, ujung akar, tunas, biji
dan kecambah. Namun dalam hal ini bagian yang dipakai adalah kecambah . Bagian
ini dipakai karena kecambah adalah yang paling aktif melakukan respirasi. Hal
ini sesuai dengan literatur Putra (2010) yang menyatakan bahwa kecambah
melakukan pernafasan untuk mendapatkan energi yang dilakukan dengan melibatkan
gas oksigen (O2) sebagai bahan yang diserap atau diperlukan dalam
menghasilkan karbondioksida (CO2), air (H2O) dan sejumlah
energi.
NaOH
merupakan larutan yang digunakan untuk mengikat CO2 sebab bersifat
higroskopis. Bergeraknya larutan methylblue setelah penumpahan NaOH merupakan
indikator akan berlangsungnya respirasi pada kecambah. Selain itu NaOH akan
mengikat CO2 yang akan berpengaruh terhadap nilai KR yang
dihasilkan. Adapun reaksi pengikatannya karbondioksida oleh NaOH dalah 2NaOH +
CO2 Na2CO3
+ H2O. Hal ini sesuai dengan literatur Bhat (1999) yang menyatakan
bahwa Dalam kondisi alkali atau basa, pembentukan bikarbonat dapat diabaikan
karena bikarbonat bereaksi dengan OH- membentuk CO32- .
KESIMPULAN
1.
Nilai
Kuosien Respirasi kecambah jagung (Zea
mays L.) adalah
0,53.
2.
Nilai Kuosien Respirasi kecambahkacang
hijau (Phaseolus radiatus L.) adalah 0,51.
3.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju
respirasi terdiri dari faktor internal yang meliputi perkembangan organ,
susunan kimiawi jaringan, jenis substrat, usia tanaman. Dan faktor eksternal meliputi
suhu dan ketersediaan Oksigen.
4.
Perbedaan antara KR kacang hijau < KR
jagung hal ini terjadi karena perbedaan substrat yang menjadi kandungan dari
keduanya.
5.
Kecambah kacang hijau dan kecambah
jagung dipilih sebagai bahan percobaan, sebab kecambah meupakan tanaman kecil
yang aktif melakukan respirasi.
6.
Adapun
reaksi pengikatan CO2 yang dilakukan oleh NaOH adalah 2NaOH + CO2 Na2CO3
+ H2O. Proses tersebut mengakibatkan tekanan dalam erlenmeyer
menurun dan methylblue akan naik ke pipa kapiler.
Saran
Sebaiknya
dalam praktikum yang dilaksanakan, digunakan kecambah yang baik dan dilakukan
pengukuran kenaikan methylblue kepipa kapiler secara teliti agar didapati nilai
kuosien respirasi yang ssesuai dengan kandungan masing-asing substrat kecambah.
Jurnal : Laporan Kuoesien Respirasi
Latar
Belakang
Kuesien
respirasi (KR) merupakan angka perbandingan antara volume CO2 dan
dibebaskan dengan volume O2 yang di absorbsi secara stimulan oleh
jaringan dalam periode tertentu. Pada suhu dan tekanan tertentu. KR dari
glukosa adalah 1, lemak 0,7 dan protein adalah lebih besar dari 0,7 dan lebih
kecil dari 1 (Miller, 1991).
Pengurangan kecepatan
respirasi pada titik kompensasi pengikatan karbondioksida untuk fotosintesis
sama dengan kehilangan karena respirasi. Karena itu, suatu pengurangan didalam
respirasi akan menurunkan titik kompensasi tetapi respirasi mempunyai suatu
tujuan dan suatu pengurangan. Nampaknya adalah untuk mendapatkan pertumbuhan
yang dapat menurunkan kemampuan bersaing dari tanaman dalam kaitannya dengan spesies
yang pertumbuhannnya lebih cepat. Pengurangan kecil pada kecepatan respirasi kemudian merupakan
respon yang umum terhadap berkurangnya intensitas cahaya, tetapi sebagai suatu
respon positif adaptif utama. Hal itu hanya akan terjadi bagi tanaman
yang mengetahui penurunan
yang sangat berat (Fitter dan
Hay, 1991)
Sel tumbuhan dan sel
hewan menggunakan energi
untuk membangun dan memelihara protoplasma, membrane protoplasma, dan dinding
sel. Mereka mendapatkan energi
ini seperti halnya mesin mobil dari oksidasi (Pembakaran) senyawa kimia. Bila
kayu dibakar, pertama-tema kayu harus dibakar hingga suhu 204-280 ºC. Respirasi sangat berbeda dengan
pembakaran. Disamping karena kecepatan, respirasi berbeda karena energy yang
direspirasikan diubah menjadi energy yang berguna untuk sel, bukan dilepaskan untuk panas.
Didalam respirasi molekul gula biasanya gliukosa diubah menjadi molekul yang
lebih sederhana dengan disertai pembebasan energi. Proses ini digambarkan
dengan persamaan : C6H12O6+6O2->6O2+6H2O+energy
(Tjitrosomo, 1980)
Tanaman jagung
menghendaki penyinaran matahari penuh. Di tempat- tempat yang teduh,
pertumbuhan tanaman jagung akan merana dan tidak mampu membentuk buah (Najiyati
dan Danarti, 1999).
Tanaman kacang hijau
termasuk tanaman golongan C3. Artinya, tanaman ini tidak menghendaki radiasi
dan suhu yang terlalu tinggi. Fotosintesis tanaman kacang hijau akan mencapai
maksimum pada sekitar pukul 10.00. Radiasi yang terlalu terik tidak diinginkan
oleh tanaman kacang hijau. Panjang hari yang diperlukan minimum 10 jam/hari (Purwono
dan Hartono, 2008).
Kuosien Respirasi adalah Pengukuran CO2
dan O2 memungkinkan pengevaluasian sifat proses respirasi.
Perbandingan CO2 terhadap O2 dinamakan kuosien respirasi (RQ).
RQ berguna untuk menentukan apakah proses bersifat aerobik atau anaerobik
(Pantastico, 1984).
Cahaya
matahari pada kaitannya merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap
respirasi. Bukan hanya itu, matahari juga merupakan faktor yang memiliki fungsi
lain dalam pemanfaatan kehidupan. Berbagai ragam pemanfaatan cahaya matahari
adalah untuk kehidupan, manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan dan pada kenyataannya nilai kuosien respirasi
berfluktuatif. Adapun faktor-faktor penyebabnya adalah : 1) Suhu. Mempengaruhi
penyerapan Oksigen (O2) dan produksi karbondioksida (CO2).
Nilai KR akan meningkat dengan kenaikan suhu dan akan menurun juga dengan
penurunan suhu. 2) Asam Organik yang diserap oleh tanaman, digunakan pula untuk
proses sintesis asam organik disamping untuk respirasi. 3) Faktor lain. Dalam
hal ini, CO2 banyak dibentuk pada proses respirasi namun tidak
diimbangi dengan tersedianya O2 dalam jumlah cukup. Keadaan ini
terjadi pada tempat anaerob. Tanaman berdaun merah meiliki nilai KR yang lebih
rendah dibandingkan dengan yang berdaun hijau (Gabriel, 2001).
Tujuan
Percobaan
Adapun
tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui kuosien respirasi pada
kecambah jagung (Zea mays L.) dan kecambah kacang hijau (Phaseolus radiatus L.)
Kegunaan
Penulisan
Adapun
kegunaan dari penulisan ini adalah
sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal tes di Laboratorium
Fisiologi tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara serta sebagai
sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA
Respirasi
merupakan proses oksidasi bahan organik yang terjadi di dalam sel, berlangsung
secara aerobik maupun aneorobik. Dalam repirasi aerobik ini diperlukan CO2
serta energi, sedangkan dalam proses respirasi secara aerob dimana
oksigen tidak atau kurang tersedia dan dihasilkan senyawa lebih CO2 di
ketahui nilai KR untuk karbohidrat = 1 , protein < 1 (0,8 – 0,9) lemak <1
(0,7) asam organik >1 (1,33) (Pandey dan Sinha ,1995).
Pada
dasarnya respirasi memiliki 2 fungsi utama , yang pertama adalah sebuah proses
yang menghasilkan produksi senyawa reaktif atau penyusun-penyusun khusus yang
penting dalam hal konstituensi pembentukan sel. Yang kedua adalah sebuah proses
dimana energi dilepaskan dan dimanfaatkan sedemikian rupa untuk menghasilkan
pembentukan struktur sel serta dalam melakukan kerja (Curtis and Clark, 1950).
Proses respirasi
diawali oleh adanya penangkapan O2
dari lingkungan. Proses-proses transport yang dalam tumbuhan secara keseluruhan
berlangsung dengan cara difusi, melalui ruang antar sel, dinding sel,
sitoplasma, dan membrane sel. Demikian juga halnya dengan CO2 yang
dihasilkan respirasi akan berdifusi keluar sel dan masuk kedalam ruang antar
sel. Kemudian dinding dalam respirasi respirasi tersebut dalam beberapa tahapan
diantaranya yaitu dekarboksilase, oksidasi, siklus asam sitrat,
dan transportasi elektron
(Najiyanti dan Danarti, 1999).
Pada
respirasi, oksigen digunakan dan karbondioksida dibebaskan. Oleh karena didalam
cahaya kedua proses itu berlangsung dalam waktu yang sama di dalam sel-sel
tumbuhan, maka akan diketahui sejauh mana pula produk tersebut dimanfaatkan.
Bukti menunjukkan bahwa karbondioksida yang dibentuk dalam respirasi dapat
digunakan dalam proses fotosintesis, sedangkan oksigen yang dibebaskan dalam
fotosintesis dapat dimanfaatkan dalam respirasi. Pada intensitas cahaya yang
rendah, kedua proses itu tetap seimbang, sehingga baik oksigen maupun
karbondioksida tidak ada yang masuk maupun yang keluar dari daun. Intensitas
cahaya yang memungkinkan tercapainya keseimbangan dinamakan titik kompensasi
(Tjitrosomo, 1980).
Respirasi merupakan
reaksi dari 50 atau lebih reaksi komponen. Masing masing dikatalis oleh komponen berbeda. Respirasi merupakan
oksidasi yang berlangsung dalam medium air, dengan pH mendekati netral. Pada
saat suhu sedang dan bertahap menyebabkan energi menjadi ATP
(Salisbury dan Ross, 1995).
Perbandingan
antara respirasi dan fotosintesis dapat dilihat dari beberapa perbedaan.
Respirasi terjadi pada seluruh sel yang hidup , bahan baku utama adalah glukosa
dan oksigen, berlangsung setiap waktu ( baik siang dan malam), merupakan proses
pelepasan/penggunaan energi, menghasilkan karbondioksida dan air. Sedangkan
fotosintesis terjadi hanya pada organisme yang memiliki klorofil yang berisi
sel-sel, bahan baku utama adalah karbondioksida dan air, berlangsung hanya jika
tersedia cahaya matahari, merupakan proses menghasilkan energi, menghasilkan
glukosa dan juga oksigen (Brimble, 1960).
Pada
kebanyakan tanaman, karbohidrat dengan komposisi utama [CH2O]n secara kuantitatif, substrat yang paling
penting dalam metabolisme pernafasan. Kerusakan aerobik yang lengkap akan
karbohidrat dapat dirumuskan sebagai kebalikan dan produksi fotosintesis
glukosa (Mohr and Schopfer, 1995).
Metabolisme pernafasan dijelaskan terjadi ketika
Oksigen tersedia yang disebut dengan aerobik. Ketika Oksigen kurang (tidak tersedia)
proses respirasi akan menjadi anaerobik. Dalam proses tersebut, asam piruvat
akan dirubah menjadi alkohol atau asam laktat. Respirasianaerob terjadi pada
bagian akar adalah ketika akar kehilangan Oksigen karena tanah tergenang air
maupun banjir (Poincelot, 1979).
Untuk tujuan yang lebih penting, tingkat respirasi
dapat dinilai dan diprediksikan sebagai konsep penggunaan pertumbuhan dan
pemeliharaan respirasi. Dalam proses ini (lebih dari proses biokimia) secara
perbedaannya dapat mengetahui proporsi dalam fotosintesis yang digunakan untuk memberikan energi dalam hal melakukan sintesis
terhadap struktur dan penyusunnya serta proporsi energi yang digunakan dalam
memperbaharui protein yang telah mengalami degradasi (Milthorpe and Moorby,
1988).
Tingkat respirasi yang rendah telah dilaporkan
terdapat pada benih yang kering meskipun diartikan sebagai relatif karena benih
tersebut memiliki kadar air. Contohnya benih/biji yang sedang dalam penyimpanan
keringmempunyai kadar air 10-15% (Bewley
and Black, 1983).
Gas CO2
langsung bereaksi dengan larutan NaOH sedangkan CH4 tidak.
Dengan berkurangmya konsentrasi CO2 sebagai akibat reaksi dengan
NaOH, maka perbandingan konsentrasi CH4 dengan CO2 menjadi
lebih besar untuk konsentrasi CH4. Dalam kondisi alkali atau basa,
pembentukan bikarbonat dapat diabaikan karena bikarbonat bereaksi dengan OH- membentuk
CO32- (Bhat, 1999).
Faktor-faktor
yang mempengaruhi laju respirasi terbagi dua, yaitu: 1) Faktor internal .
Semakin tinggi tingkat perkembangan organ, semakin banyak jumlah CO2
yang dihasilkan. Susunan kimiawi jaringan mempengaruhi laju respirasi, pada
buah-buahan yang banyak mengandung karbohidrat, maka laju respirasi akan
semakin cepat. Produk yang lebih kecil ukurannya mengalami laju respirasi lebih
cepat daripada buah yang besar, karena mempunyai permukaan yang lebih luas yang
bersentuhan dengan udara sehingga lebih banyak O2 berdifusi ke dalam
jaringan. Pada produk-produk yang memiliki lapisan kulit yang tebal, laju
respirasinya rendah, dan pada jaringan muda proses metabolisme akan lebih aktif
2) Faktor eksternal . Umumnya laju respirasi meningkat 2-2,5 kali tiap kenaikan
10°C. Pemberian etilen pada tingkat pra-klimaterik, akan meningkatkan respirasi
buah klimaterik. Kandungan oksigen pada ruang penyimpanan perlu diperhatikan
karena semakin tinggi kadar oksigen, maka laju respirasi semakin cepat.
Konsentrasi CO2 yang sesuai dapat memperpanjang umur simpan
buah-buahan dan sayuran karena terjadi gangguan pada respirasinya (Pantastico, 1993).
Mutu benih mencakup mutu fisik, fisiologis dan
genetis, serta memenuhi persyaratan kesehatan benih. Mutu fisik benih diukur
dari kebersihan benih, bentuk, ukuran, dan warna cerah yang homogen serta benih
tidak mengalami kerusakan mekanis atau kerusakan karena serangan hama dan penyakit.
Mutu fisiologis diukur dari viabilitas benih, kadar air maupun daya simpan
benih. Mutu genetik dapat diukur dari tingkat kemurniannya(Mugnisyah dkk.,
1994) .
Respirasi merupakan pemecahan bahan-bahan kompleks
dalam sel, seperti gula dan asam-asam organik menjadi molekul sederhana seperti
karbon dioksida dan air, bersamaan dengan terbentuknya energi dan molekul lain
yang dapat digunakan sel untuk reaksi sintesa (Wills dkk., 1981).
Laju respirasi dapat dipengaruhi oleh ketesediaan
substrat. Tersedianya substrat pada tanaman merupakan hal yang penting dalam
melakukan respirasi. Tumbuhan dengan kandungan substrat yang rendah akan
melakukan respirasi dengan laju yang rendah pula. Demikian sebaliknya bila
substrat yang tersedia cukup banyak maka laju respirasi akan meningkat
(Pradana, 2008).
Laju respirasi menunjukan pentunjuk yang baik untuk
daya simpan buah setelah dipanen. Intensitas respirasi dianggap sebagai ukuran
laju jalannya metabolisme dan oleh karena itu sering dianggap sebagai petunjuk
mengenai potensi daya simpan buah. Besar kecilnya respirasi dapat diukur dengan
pengukuran perbandingan CO2 terhadap O2, dinamakan
Kuosien Respirasi(RQ). Laju respirasi yang tinggi biasanya disertai dengan umur
yang pendek. Hal ini merupakan petunjuk laju kemunduran mutu dan nilainya
sebagai bahan pangan (Phan dan Muchtadi ,
1993).
Koefisien respirasi (KR) merupakan perbandingan
antara CO2 yang diproduksi dan O2 yang dikonsumsi, yang
menggambarkan jenis nutrien yang dipakai dan dimanfaatkan pada proses
metabolisme untuk menghasilkan energi. Nilai KR untuk metabolisme karbohidrat
adalah 1,0; protein 0,8 dan lemak 0,7 (Eckert, 1989).
Respirasi terjadi pada seluruh sel yang hidup,
khususnya di Mitokondria. Proses ini bertujuan untuk membangkitkan energi kimia
(ATP). ATP dibentuk dari penggabungan ADP + Pi (fosfat anorganik) dengan
bantuan pompa H+-ATP-ase, dalam rantai transfer elektron yang terdapat pada
membran mitokondria. Peristiwa aliran elektron dan atau proton (H+)
dalam rantai tranfer elektron pada dasarnya adalah peristiwa Reduksi – Oksidasi (Redoks) (Suyitno, 2006).
Kecambah melakukan pernafasan untuk mendapatkan
energi yang dilakukan dengan melibatkan gas oksigen (O2) sebagai
bahan yang diserap atau diperlukan dalam menghasilkan karbondioksida (CO2),
air (H2O) dan sejumlah energi (Putra, 2010).
DAFTAR PUSTAKA
Bewley,
J.D. and M.Black.1983.Physiology and Biochemistry of Seeds. SpringerVerlag
Berlin Heidelberg.New York.
Bhat,V.1999.Mass
Transfer with Complex Chemical Reaction in Gas Liquid system. Two step
Reversible Reaction with unit stoichiometric and Kynetic Orders.Chemical Enggineering.
Brimble,
L.J.F.1960.Intermediate Botany.Mc.Millan and Company Limited.ST Martin’s Press
Inc.New York.
Curtis,O.F.
and D.G. Clark.1950.An Introduction to plant Physiology.Mc.Graw Hill Book
Company Inc.New York.
Eckert,R.,R.David
and A.George.1989.Physiology.Mechanisme and Adaptation Third edition.Prentice
and Hall.New York.
Fitter,A.H.
dan R.K.M. Hay. 1991.Fisiologi Lingkungan Tanaman.Gadjah mada University
Press.Yogyakarta.
Gabriel,J.F.2001.Fisika
Lingkungan.Hiprokates.Jakarta.
Miller, E.C.1991.Plant Physiology With Reference to
The Green Plant.Tata Mc Grrow.Hill Book Company Inc.New York
Milthorpe,F.L.
and J.Moorby.1998. An Introduction crop PhysiologySeed Second Edition.
Cambridge University Press. Sydney.
Mohr,H.
And P. Schopfer.1995.Plant Physiology. Springer-Verlag Berlin
Heidelberg.Berlin.
Mugnisyah,W.Q.,A.Setiawan,Suwarto,C.Santiwa.1994.Panduan
Praktikum dan Penelitian Bidang ilmu dan teknologi Benih. Raja Grafindo
Persada.Jakarta.
Njiyati,S.
Dan Danarti.1999.Palawija Budidaya dan Analisa Usaha Tani.Penebar
swadaya.Jakarta.
Pandey,
S.N dan Sinha, B.K.1995. Plant Physiology. Vikas Publishing Pvt Ltd.New delhi.
Pantastico,
E.R.B. 1993. Fisiologi Pasca Panen, Penanganan dan Pemanfaatan Buah-Buahan dan
Sayur-Sayuran Tropika dan Subtropika. Penerjemah Kamariyani. UGM-Press.
Yogyakarta.
Pantastico,
E.R.B. 1984. Fisiologi Pasca Panen, Penanganan dan Pemanfaatan Buah-Buahan dan Sayur-Sayuran
Tropika dan Subtropika. Penerjemah Kamariyani. UGM-Press. Yogyakarta.
Pradana. 2008. Respirasi. \
Phan,
L. dan D.Muchtadi.1993.Fisiologi Tanaman.Gadjah mada University
Press.Yogyakarta.
Poincelot,R.P.1979.Horticulture
Principles and Practical Aplication. Prentice-Hall.Inc Englewood Cliffs.New
Jersey.
Purwono dan R.Hartono.2008.Kacang
Hijau.Penebar Swadaya.Jakarta.
Putra,I.2010.Penetapan
Kuosien Respirasi jaringan Tumbuhan.Diaksesmemalui
Salisbury dan C. W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan.
ITB. Bandung
Suyitno.2006.
Respirasi Pada Tumbuhan. Diakses
[23
November 2013]
Tjitrosomo,S.S.1980.Botani
Umum.Angkasa.Bandung.
Wills,
R.B.H., T.H. Lee, P. Graham, W.B. McGlasson and E.G. Hall. 1981. Post
Harvest : an Introduction to The Physiology and Handling of Fruit and
Vegetable. New South Wales University-Press. Australia.
Subscribe to:
Posts (Atom)