Showing posts with label Mineral. Show all posts
Showing posts with label Mineral. Show all posts

Tuesday, December 24, 2013

Paper : Asimilasi Posfor

PENGERTIAN POSFOR
            Unsur hara fosfor adalah unsur hara makro, dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak dan esensial bagi pertumbuhan tanaman. Fosfor sering disebut sebagai “Kunci Kehidupan” karena terlibat langsung hampir seluruh proses kehidupan. Ia merupakan komponen setiap sel hidup dan cenderung lebih ditemui pada biji dan titik tumbuh.
            Sumber fosfor didalam tanah terdiri dari bentuk organik dan anorganik. Fosfor organik tanah contohnya antara lain: asam nukleat, fitin dan turunannya, fosfolipid, fosfoprotein, inositol fosfat dan fosfat metabolik.
            Sumber utama fosfor anorganik berasal dari kerak bumi, dan hasil dari pelapukan batuan dan mineral yang mengandung fosfor seperti mineral apatit, dan kandungannya mencapai 0,12% P. Sebagian besar fosfat anorganik tanah berada pada persenyawaan kalsium, alumunium dan besi, yang kesemuanya sukar larut dalam air.
            Didalam tanaman P merupakan unsur yang mobil, dan bilamana terjadi kekurangan unsur ini pada suatu tanaman, maka P pada jaringan-jaringan tua akan di translokasikan ke jaringan yang masih aktif. Apabila terjadi kekurangan unsur P akan menghambat pertumbuhan tanaman, dan gejalanya sulit diketahui sebagaimana gejala-gejala yang kelihatan pada tanaman-tanaman yang kekurangan unsur N dan K.
ASIMILASI POSFOR

            Terdapat tiga fase perubahan fosfat didalam tanaman. Didalam fase pertama, fosfat anorganik diserap dan bergabung dengan molekul –molekul organik dan radikal. Didalam fase berikutnya senyawa senyawa yang mengandung P mentransfer kelompok fosforil menjadi molekul-molekul lainnya, proses mana dikenal sebagai transfosforilasi. Pada fase terakhir, fosfat atau pirofosfat dipecah lagi dari “the phosphorilated intermediates”, baik melalui proses hidrolisa maupun substitusi radikal organik. Sumber energi utama dalam perubahan fosfat tersebut menjadi kombinasi organik berasal dari energi potensial oksidasi reduksi didalam metabolisme oksidatif
Peredaran fosfor didalam tanah dapat diketahui yaitu masuknya fosfor kedalam biosfer melalui penyerapan fosfat oleh tanaman dan jasad renik. Melalui proses pelapukan bahan tanaman dan jasad renik, fosfat larut dan masuk kembali kedalam tanah.
            Pembebasan posfat dari bentuk tidak larut seperti batuan fosfat atau fosfat lain yang terfiksasi adalah sangat rendah, tetapi jumlah fosfat yang diangkut air sungai dan berakhir dilaut cukup besar. hanya sebagian kecil bentuk fosfat ini kembali ke tanah melalui bentuk guano yang dihasilkan oleh burung-burung laut dan oleh manusia dalam bentuk ikan yang ditangkap dilaut.
            Proses penurunan cadangan fosfat tanah dipercepat oleh manusia dimana batuan fosfat diproduksi menjadi pupuk fosfat. Batuan fosfat yang sukar larut diubah manusia menjadi bentuk bentuk yang lebih larut didalam air melalui reaksi-reaksi dengan asam mineral. Dalam bentuk pupuk bahan ini disebar di atas permukaan tanah-tanah pertanian dan sekarang menjadi lebih peka terhadap erosi atau tercuci. Sebagian besar fosfat itu dipercepat penimbunannya didasar laut.
            Penurunan  kadar fosfat didalam tanah dapat dipercepat akibat pengangkutan dalam bentuk hasil pemanenan, kehilangan fosfat dalam bentuk ini dapat semakin diperbesar bila tanaman yang dipanen seluruh bagiannya tidak dikembalikan lagi kedalam tanah.
Bentuk-Bentuk Fosfor di Dalam Tanah
            Terdapat dua bentuk fosfor didalam tanah yakni fosfor anorganik dan fosfor organik. Fosfat dalam bentuk anorganik merupakan senyawa satu hingga atom hidrogen dari asam fosfat digantikan oleh kation logam, sedangkan dalam bentuk fosfor organik, satu atau mungkin lebih atom hidrogen hilang didalam asam fosfat karena ikatan ester. Sisa dari atom hidrogen, sebagian atau seluruhnya digantikan oleh kation logam. Kedua bentuk fosfor ini merupakan sumber fosfor yang penting sebagai zat hara tanaman.
Posfat Anorganik Tanah
            Sumber utama fosfat anorganik di dalam tanah adalah hasil pelapukan dari mineral-mineral apatit, dari pupuk-pupuk buatan dan dekomposisi bahan organik. Sebagian besar fosfat anorganik tanah berada dalam persenyawaan kalsium, alumunium dan besi fosfat yang kesemuanya larut di dalam air.
Posfat Organik Tanah
            Pengetahuan tentang fosfat organik tanah sangat sedikit, meskipun fraksi fosfat organik ini melebihi setengah dari seluruh fosfat yang ada didalam tanah. Hal ini karena penelitian-penelitian mengenai fosfat ini sangat sedikit, dan bentuknya yang kompleks. Meskipun demikian dari data yang diperoleh, ternyata ada tiga grup senyawa fosfat organik tanah yaitu : (1) Fitin dan turunannya. (2) Asam nukleat dan (3) Fosfolipida.
            Kadar fosfor organik tanah dijumpai lebih besar pada lapisan tanah atas (topsoil) dibandingkan dengan tanah lapisan bawah (sub soil). Hal ini terjadi karena pada lapisan atas terdapat penumpukan sisa-sisa tanaman atau bahan organik, sedangkan pada lapisan bawah bahan organik sedikit, dan ditambah lagi dengan adanya serapan hara oleh akar tanaman sampai kelapisan bawah.
Ketersediaan Fosfor di Dalam Tanah
            Pada umumnya fosfor di dalam tanah kebanyakan terdapat dalam bentuk yang tidak tersedia bagi tanaman. Tanaman menyerap hara fosfor dalam bentuk ion orthofosfat yakni H2PO4- HPO42- dan PO43- dimana jumlah dari masing masing bentuk sangat bergantung pada pH tanah. Pada tanah-tanah yang bereaksi masam lebih banyak dijumpai bentuk H2PO4-  dan pada tanah alkalis adalah bentuk PO43-.
            Berdasarkan kelarutannya dan ketersediaannya didalam tanah bentuk fosfor tanah deapat dibendakan menjadi (1) Fosfor yang larut didalam air, yaitu bentuk yang larut dan tersedia bagi tanaman (2) bentuk Al-P (3) bentuk Fe-P dan (4) bentuk Ca-P.
Ketersedian Fosfat Anorganik
            Ketersediaan fosfat anorganik tanah sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti (1) pH tanah (2) tersedianya Ca (3) jumlah dan tingkat pelapukan bahan oorganik dan (4) aktifitas jasad renik.
Pengaruh pH Tanah terhadap Ketersediaan Fosfat
            pH tanah mempengaruhi bentuk-bentuk ion orthofosfat didalam tanah. Pada tanah masam bentuk ion H2PO4- dijumpai lebih dominan sedangkan pada tanah agak basa dan basa dijumpai bentuk ion HPO42- dan PO43- . perubahan bentuk ion fosfat berdasarkan keadaan pH tanah diperlihatkan melalui reaksi berikut :
H2PO4-                     H2O + HPO42-                   H2O + PO43-
            Larutan tanah asam                 larutan tanah basa
            Bentuk ion H2PO4- pada umumnya lebih tersedia bagi tanaman dari pada bentuk ion lainnya. Pada tanah masam kelarutan daripada unsur Al, Fe, dan Mn sangat tinggi sehingga mereka cenderung mengikat ion-ion fosfat menjadi fosfat tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman. Reaksi kimia antara ion fosfat dengan Al dan Fe larut menghasilkan senyawa hidroksifosfat. Dalam hal ini ion fosfat menggantikan kedudukan ion OH dari koloid tanah atau mineral.
            Mineral-mineral liat seperti Kaolinit, Montmoriolit dan Illit dapat juga memfiksasi ion fosfat, meskipun pengikatan ini sebenarnya terjadi oleh karena adanya ion-ion Al dan Fe yang terdapat pada permukaan koloid liat tersebut atau adanya pembebasan ion-ion Al dan Fe dari pinggiran kristal yang membentuk hidroksi fosfat.
            Pada tanah yang bereaksi masam kelarutan atau konsentrasi ion-ion Al dan Fe sangat tinggi. Selanjutnya ion Al dan Fe ini bersenyawa dengan ion H2PO4- membentuk fosfat hidroksi fosfat yang tidak larut sehingga tidak tersedia bagi tanaman.
            Pada tanah-tanah alkalis (basa) fosfat yang larut dapat berubah menjadi fosfat yang tidak larut, karena diikat oleh ion kalsium. Pada tanah-tanah yang demikian dijumpai banyak ion kalsium bebas dari bentuk ion kalsium karbonat yang dapat mengendapkan fosfat menjadi bentuk kalsium fosfat yang tidak larut.
Pengaruh Bahan Organik terhadap Ketersediaan Fosfat
            Pengaruh bahan organik terhadap ketersediaan hara fosfat didalam tanah melalui hasil pelapukannya yaitu asam-asam organik dan CO2. Asam-asam organik seperti asam manolat, tartarat, humat, fulvik akan menghasilkan anion organik. Anion organik ini dapat mengikat logam-logam seperti Al, Fe, dan Ca dari dalam larutan tanah, kemudian membentuk senyawa kompleks yang bersifat sukar larut. Dengan pengikatan Al, Fe dan Ca ini ion-ion akan bebas dari pengikatan logam-logam tersebut sehingga tersedia didalam larutan tanah. Proses pengikatan logam seperti Al, Fe dan Ca oleh senyawa asam-asam organik kompleks disebut proses Khelasi.
Ketersediaan Fosfat Organik di Dalam Tanah
            Fitin dan asam nukleat merupakan sumber utama fosfat organik tanah, sedangkan bentuk fosfolipid relatif lebih sedikit. Dekomposisi fitin menjadi bentuk organik dilakukan oleh bakteri dan fungi dengan bantuan enzym phytase. Reaksi tanah (pH) mempengaruhi ketersediaan fitin. Fiksasi fitin lebih besar pada tanah yang bereaksi masam dari pada tanah yang bereaksi netral atau alkalis. Hal ini disebabkan karena fitin bersenyawa dengan ion-ion Al dan Fe yang banyak terdapat pada tanah masam dan membentuk senyawa yang tidak larut.

Paper :Pembahasan Fisiologi Tumbuhan Transportasi zat Hara

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tanaman : Pacar air (Balsamina impatiens L.)
Perlakuan            Tinggi larutan eosin setelah 15 menit      V= mm/detik
Xylem + vaseline                    48,6 cm                          V=486mm/980s =0,54mm/s
Floem +vaseline                      17 cm                            V=170mm/980s =0,18mm/s

Tanaman : Bayam duri (Amaranthus spinosus L.)
Perlakuan            Tinggi larutan eosin setelah 15 menit      V= mm/detik
Xylem + vaseline                    30,2 cm                          V=302mm/980s =0,33mm/s
Floem +vaseline                        7 cm                            V=70mm/980s =0,07mm/s

Perhitungan :
Rumus : V = Tinggi larutan eosin (mm)
             Waktu (detik)

Tanaman Pacar air (Balsamina impatiens L.)
1.      Xylem + Vaseline = 486 mm/ 980 detik = 0,54 mm/detik
2.      Floem + Vaseline = 17 mm/ 980 detik = 0,18 mm/detik
Tanaman : Bayam duri (Amaranthus spinosus L.)
1.      Xylem + Vaseline = 302 mm/ 980 detik = 0,33 mm/detik
2.      Floem + Vaseline = 7 mm/ 980 detik = 0,07 mm/detik



Pembahasan
            Dari hasil percobaan yang dilakukan kecepatan pergerakan zat hara yang paling besar adalah pada tanaman pacar air (Balsamina impatiens L.) yaitu sebesar 0,54 mm/detik pada perlakuan xilem + vaseline. Hal ini disebabkan pengangkutan hara mineral dan garam dari tanah sebenarnya dilakukan oleh pembuluh xilem dengan gaya kapilaritas yang sangat tinggi sehigga hara tersebut masuk dan naik ke dalam tubuh tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur dari Rahman (2009) yang menyatakan bahwa xilem berperan mengangkut air dan bahan-bahan nimeral dari dalam tanah dengan memiliki gaya kapilaritas yang tinggi.
            Berdasarkan hasil percobaan diketahui kecepatan pergerakan hara dengan perlakuan xilem + vaseline pada pacar air (Balsamina impatiens L.) adalah lebih besar yaitu 0,54 mm/detik dibandingkan dengan perlakuan floem + vaseline hanya sebesar 0,18 mm/detik. Hal ini dikarenakan floem sebenarnya memiliki fungsi sebagai pengangkut hasil fotosintesis yang berasal dari daun untuk disebarkan keseluruh tubuh tumbuhan, sedangkan xilem untuk mengangkut hara mineral dan air dari akar kedaun. Hal ini sesuai dengan literatur dari Suyitno (2012) yang menyatakan bahwa pengangkutan hara secara vasikular terjadi melalui pembuluh kayu (xilem) dan pembuluh kulit (floem). Pengangkutan air dari akar ke batang terjadi melalui pembuluh kayu, sedangkan pembuluh kulit hanya mengangkut hasil asimilasi fotosintesis.
            Berdasarkan hasil praktikum transportasi zat hara didapatkan bahwa pada tanaman bayam duri (Amaranthus spinosus L.) didapatkan perlakuan xilem + vaseline didapatkan lebih tinggi dibandingkan dengan floem + vaseline yaitu sebesar 0,33 mm/detik dengan 0,07 mm/detik. Hal ini disebabkan aliran yang terjadi pada xilem bisa dipengaruhi oleh transpirasi, transportasi dan fotosintesis.  Tanaman mengangkut hasil makanan melalui floem disebarkan ke bagian tanaman lainnya. Hal ini sesuai dengan literatur dari Kusuma (2007) yang menyatakan bahwa kecepatan laju transportasi hara makanan bisa disebabkan beberapa kegiatan pada tumbuhan yaitu transpirasi, transportasi dan fotosintesis.
            Faktor-faktor yang mempengaruhi transportasi zat hara pada tumbuhan diantara nya adalah suhu, konsentrasi larutan, beda tekanan, dan zat-zat adsortif. Dimana pada suhu yang tinggi maka tumbuhan semakin banyak menyerap hara dan air untuk menjaga kestabilan tubuhnya sehingga tidak terjadi kekeringan. Hal ini sesuai dengan literatur dari Kusuma (2007) yang menyatakan bahwa pergerakan unsur hara tanaman dipengaruhi oleh banyak faktor, yang meliputi beda suhu, beda konsentrasi, beda tekanan, dan zat-zat adsortif.
            Pada percobaan digunakan vaseline untuk menutupi bagian-bagian yang akan diujikan, vaseline sebagai lapisan lilin untuk menahan air yang masuk pada bagian yang dipercobakan, sedangkan larutan eosin digunakan untuk menandakan adanya laju transportasi air, dimana eosine yang berwarna biru akan masuk ke jaringan pembuluh pada tanaman dan menyebar ke bagian tumbuhan. Hal ini sesuai dengan literatur Rahman (2009) yang menyatakan bahwa untuk mengetahui laju pergerakan hara tanaman digunakan air berwarna, bisa menggunakan eosin atau pewarna lain sehingga diketahui bagian mana yang mengangkut hara pada tanaman. Sedangkan vaselin digunakansebagai lapisan lilin sehingga tidak terjadi penyerapan dari bagian yang tidak diinginkan.
            Unsur hara dan air masuk melalui akar bisa melalui beberapa cara yaitu dengan difusi, osmosis dan aliran massa, yang ketiga nya berbeda sesuai konsetrasi dan zat pelarut masing masing. Hal ini sesuai dengan literatur dari Suyitno (2012) yang menyatakan bahwa secara umum gerakan zat menyebar dari daerah dengan konsentrasi tinggi ke daerah dengan konsentrasi rendah atau dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan tinggi disebut difusi. Sedangkan osmosis adalah pergerakan air dari konsentrasi tinggi menuju daerah yang konsetrasi rendah.


















KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.      Pada praktikum didapatkan tanaman pacar air (Balsamina imatiens L.) dengan perlakuan xilem + vaseline didapatkan 0,54 mm/detik sedangkan pada perlakuan floem + vaseline didapatkan 0,18 mm/detik laju transportasi zat hara nya.
2.      Pada praktikum didapatkan tanaman bayam duri (Amaranthus spinosus L.) dengan perlakuan xilem + vaseline didapatkan 0,33 mm/detik sedangkan pada perlakuan floem + vaseline didapatkan 0,07 mm/detik laju transportasi zat hara nya.
3.      Pada praktikum digunakan vaseline yang berfungsi sebagai lapisan lilin sedangkan pada larutan eosin sebagai penanda adanya laju transportasi air pada tumbuhan.
4.      Laju transportasi zat hara bisa disebabkan oleh beberapa faktor yaitu pengaruh suhu, konsentrasi zat, dan juga pengaruh tekanan.
5.      Ada tiga macam penyerapan air kedalam tubuh tumbuhan yaitu difusi, osmosis dan juga aliran massa.
Saran

      Disarankan pada praktikum transportasi zat hara pada perlakuan floem + vaselin agar benar-benar tertutup vaselin dengan sempurna sehingga tidak ada larutan eosin yang bisa menembus batang tanaman.

Paper : Fisiologi Tumbuhan Transportasi Zat Hara

PENDAHULUAN

Latar Belakang

            Proses fisiologi yang berlangsung pada tumbuhan banyak banyak berkaitan dengan air atau bahan-bahan (senyawa atau ion) yang terlarut didalam air. Oleh sebab itu untuk mempelajari fisiologi perlu dipahami terlebih dahulu sifat fisika dan kimia molekul air (Lakitan, 1996).
Salah satu faktor yang menunjang tanaman untuk tumbuh dan berproduksi secara optimal adalah ketersediaan unsur hara dalam jumlah yang cukup didalam tanah. Jika tanah tidak dapat menyediakan unsur hara yang cukup bagi tanaman, maka pemberian pupuk perlu dilakukan untuk memenuhi kekurangan tersebut. Setiap jenis unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman, tentunya memiliki fungsi, kelebihan dan kekurangan masing-masing (Rivando, 2007).
Semua tanaman hijau memerlukan seperangkat dasar hara mineral yang sama dan berbagai unsur digunakan oleh tanaman yang berbeda untuk menghasilkan tujuan akhir yang sama. Satu atau dua kelompok mempunyai kebutuhan khusus, seperti kebutuhan akan kobalt untuk membantu legum dalam bersimbiosis dengan rhizobium, suatu bakteri  pengikat nitrogen, atau kebutuhan akan natrium oleh tanaman yang menggunakan alur fotosintesis C4 dan oleh beberapa tanaman paya (gambut) dan tanaman gurun pasir (Fitter and Hay, 1991),
Untuk berkembang maupun tumbuh subur pada tanah yang kering, suatu tanaman haruslah melindungi dirinya dengan menyediakan air untuk menghindari terhadap efek kekeringan udara, dan itu haruslah memiliki pengertian bahwa keduanya mengganti zat yang hilang dan menyediakan air tambahan untuk pertumbuhan (Barbour dkk., 1982).
Hubungan antara bahan organik dan bahan anorganik dikenal sebagai siklus. Karena peredaran bahan dari komponen abiotik ke komponen biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik membentuk semacam lingkaran, maka disebut juga siklus biogeokimia. Ada bermacam-macam siklus di alam yang telah diketahui, diantaranya air, karbon, oksigen, fosfor, nitrogen, dan sulfur. Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam tanah, tumbuhan dan binatang baik yang besar maupun yang kecil (Tjitrosomo, 1994).
Perkembangan tanaman lebih dilihat dari proses pembentukan jaringan dan organ-organ tanaman sehingga masing-masing individu tanaman mempunyai bentuk morfologinya yang khas. Perkembangan tanaman tidak difokuskan pada pertambahan ukuran atau beratnya, walaupun tentu saja selama proses pembentukan jaringan dan organ tersebut akan diikuti oleh pertambahan berat dan ukurannya (Lakitan, 1996).
Tujuan Percobaan
            Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan daerah pengangkutan zat hara pada tanaman pacar air (Balsamina impatiens L.) dan tanaman bayam duri (Amaranthus spinosus L.).
Kegunaan Penulisan
            Adapun kegunaan penulisan ini adalah sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal tes di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan dan sebagai salah satu bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA
Transportasi tumbuhan adalah proses pengambilan dan pengeluaran zat-zat keseluruh bagian tubuh tumbuhan. Pada tumbuhan tingkat rendah (misalnya ganggang) penyerapan air dan zat hara yang terlarut didalamnya dilakukan melalui seluruh bagian tubuh. Pada tumbuhan tingkat tinggi (misalnya spermatophyta) proses pengangkutan dilakukan oleh pembuluh pengangkutan terdiri dari xylem dan floem (Kusuma, 2007).
Unsur  hara merupakan bagian penting pada tanaman. Informasi kebutuhan unsur hara sangat penting dimiliki petani, karena kesalahan dalam pemberian pupuk mengakibatkan kualitas tanaman menurun. Tanaman mengandung 50 unsur yang dibutuhkan selama pertumbuhan. Terdapat 16 unsur esensial makro dan mikro. Unsur hara makro terdiri dari Carbon (C), Oksigen (O), Hidrogen (H), Nitrogen (N), Fosfor (F), Kalium (K), Calcium (Ca), Magnesium (Mg), Sulfur (S), sedangkan unsur hara mikro terdiri dari Besi (Fe), Mangan (Mn), Seng (Zn), Molibenum (Mo), Boron (Bo), Tembaga (Cu), Dan Khlor (Cl) (Irfianti dan Sulistyaningsih, 2012).
Unsur hara makro yang diserap oleh tanaman relatif banyak yang diperlukan, kekurangan unsur hara makro menimbulkan defisiensi yang tidak dapat digantikan oleh unsur lain sedangkan kelebihan unsur hara makro tidak menimbulkan pengaruh karena akan terlarut kedalam tanah atau larut oleh air. Unsur hara mikro diperlukan tanaman dalam jumlah sedikit, kekurangan unsur hara mikro biasanya dapat digantikan oleh unsur-unsur hara mikro yang lainnya, sedangkan kelebihan unsur hara mikro dapat menimbulkan racun (Riyanto, 2011).
Kalau akar tanaman tumbuh dan berkembang dalam tanah, mereka menempati ruang yang semula ditempati oleh unsur hara yang dapat diserap. Oleh karena itu permukaan akar harus kontak dengan unsur hara ini selama proses pergantian ruang tersebut (Soemarno, 2010).
Unsur hara dapat tersedia disekit akar melalui 3 mekanisme penyediaan unsur hara, yaitu : (1) aliran massa,(2) difusi, dan (3)intersepsi akar, hara yang  telah berada di sekitar permukaan akar tersebut dapat diserap tanaman melalui dua proses  yaitu : (1) proses aktif, yaitu: proses penyerapan unsur hara dengan energi aktif atau proses penyerapan hara yang memerlukan adanya energi metabolik, dan (2) proses selektif, yaitu proses penyerapan unsur hara yang terjadi secara selektif (Ispandi dan Munip, 2004).
Transportasi nutrien yang terjadi pada tumbuhan yang dilakukan melalui pembuluh dan tanpa pembuluh. Transportasi melalui pembuluh terjadi melalui ikatan pembuluh xilem dan floem. Xilem berperan untuk mengangkat air dan bahan-bahan mineral dalam tanah. Floem berperan untuk mengangkut hasil-hasil fotosintesis dari daun keseluruh tumbuh. Pembulah dapat diibaratkan sebagai seluran atau selang yang amat kecil yang berfungsi sebagai jalan lalu lintas. Transportasi nutrien pada tumbuhan yang di lakukan tanpa melalui pembuluh, terjadi melalui difusi, osmosis dan transpor aktif (Rahman, 2009)
Tumbuhan tidak dapat membangkitkan tenaga hisap untuk menyerap air masuk ke jaringan akar. Tumbuhan juga tidak memiliki kemampuan memiliki zat yang diserap. Berbagai zat yang larut dalam air tanah dan dapat menembus dinding dan membran sel rambut akar akan dapat terserap, bahkan zat-zat racun sekalipun. Misalnya zat-zat insektisida, logam berat dan obat-obat kimia lainnya (Suyitno, 2012).
Banyaknya air sebagai reaktan dan sebagai pelarut zat hara dalam tanaman sangat dipengaruhi oleh sistem perakaran. Makin panjang dan dalam akar menembus tanah makin banyak air yang harus diserap bila dibandingkan dengan perakaran yang pendek dan dangkal. Makin banyak air maka makin banyak produksi biosintesis yang dapat ditranslokasikan melalui floem ke akar, batang dan buah (Widyawati, 2005).
Bahan kimia mengandung unsur hara esensial sangat mutlak dibutuhkan tanaman. Ada bahan kimia yang kandungannya berupa unsur hara makro dan dibutuhkan dalam jumlah banyak, ada juga bahan kimia yang kandungan nya berupa unsur hara mikro dan dibutuhkan dalam jumlah hanya sedikit (Sutiyoso, 2004).
Air yang berimbibisi menyebabkan biji mengembang dan memecahkan kulit pembungkusnya dan juga memicu perubahan metabolik pada embrio yang menyebabkan biji tersebut melanjutkan pertumbuhan. Enzim-enzim akan mulai mencerna bahan-bahan yang disimpan pada endosperma atau kotiledon, dan nutrien-nutriennya dipindahkan ke bagian embrio yang sedang tumbuh    (Campbell dkk., 2000).
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Praktikum
            Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan pada ketinggian tempat + 25 meter diatas permukaan tanah pada hari rabu 13 November 2013 pukul 13.00 WIB sampai dengan selesai.
Bahan dan Alat Praktikum
            Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah tanaman pacar air (Balsamina impatiens L.) dan bayam duri (Amaranthus spinosus L.) sebagai objek praktikum, larutan eosin sebagai indikator percobaan, dan vaseline sebagai pelapis tanaman.
            Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah erlenmeyer sebagai wadah tanaman dan wadah larutan eosin, pisau atau citter untuk memptong bagian tanaman, penggaris untung mengukur tinggi larutan eosin, dan stopwach untuk alat ukur waktu.
Prosedur Percobaan
-        Disiapkan tanaman pacar air (Balsamina impatiens L.) dan tanaman bayam duri (Amaranthus spinosus L.) yang tingginya sama dan besarnya sama, tegak lurus masing masing 2 batang.
-        Dipotong bagian pangkal akar dan dikupas kulit batang nya sepanjang 3 cm dari pangkal.
-        Diberi perlakuan masing-masing tanaman
a. Tanaman I : pada bagian ujung pangkal diberi vaseline (xylem + vaseline).
b.  Tanaman II : pada bagian batang yang dikupas diberi vaseline (floem + vaseline).
-        Dimasukkan kedalam erlenmeyer yang berisi larutan eosine dan dibiarkan + 30 menit.
-        Diukur ketinggian larutan eosin pada jaringan tanaman dan dihitung laju transpirasi dengan rumus :
V=Tinggi larutan eosine
Waktu

                                                = mm/detik
DAFTAR PUSTAKA
Barbour, M. G., B. A. Bonner, R. M. Thoruton, T. L. Rost, and G. J. Breckon. 1982. Laboratory studies in botany. Jhon Wilky and Sons Publishing, New York

Campbell, N. A., J. B. Reece, dan L.G. Mitchell. 2000. Biologi Edisi ke 5 jilid 2. Erlangga, Jakarta.

Fitter, A. H. dan R. K. M. Hay. 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Irfianti, A. D dan E. Sulistyaningsih. 2012. Mobile Information System untuk Mengidentifikasi Defisiensi Unsur Hara pada Daun.  UGM Press. Yogyakarta.

Ispandi, A. Dan A. Munip. 2004. Efektivitas Pupuk PK dan Frekuensi Pemberian Pupuk K dalam Meningkatkan Serapan Hara dan Produksi Kacang Tanah di Lahan Kering Alfisol. UGM. Yogyakarta.

Kusuma, D. 2007. Uji Daya Pergerakan Zat Hara pada Spesies Tertentu. Jurnal Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Lakitan. B. 1996. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Rahman, T. 2009. Nutrisi dan Energi Tumbuhan. Modul Pembelajaran Universitas Pendidikan Indonesia. Jakarta.

Rivando, R. 2007. Penyerapan Unsur Hara. UNSRI. Palembang.

Riyanto, A. 2011. Kesuburan Tanah dan Kesehatan Tanah. Jurnal UGM. Yogyakarta.

Soemarno. 2010. Ketersediaan Unsur Hara dalam Tanah. Jurnal Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Sutiyoso, Y. 2004. Meramu Pupuk Hidroponik. Penebar Swadaya. Jakarta.

Suyitno. 2012. Penyerapan Zat dan Transportasi pada Tumbuhan. Modul Pembelajaran Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.

Tjitrosomo, S. S. 1994. Botani Umum. Angkasa. Bandung.

Widyawati, R. 2005. Pergerakan Unsur Hara Tanaman. Skripsi Universitas Sumatera Utara. Medan.