Showing posts with label panen. Show all posts
Showing posts with label panen. Show all posts

Monday, July 15, 2019

strategi menghadapi pemanen kurang di perkebunan kelapa sawit

Strategi utk mengatasi kekurangan tenaga panen. Panen merupakan pekerjaan yg paling prioritas. Utk itu yg bisa dilakukan ialah :
1. Meningkatkan produktivitas pemanen. Bila perlu memberikan insentif tambahan utk merangsang agar pemanen tetap dan semakin semangat.
2. Melatih tenaga perempuan utk ikut panen misalnya dg menggunakan "cantas" agar mudah utk perempuan.
3. Mengurangi kerja yg sifatnya asesoris, manfaatkan tenaga perawatan utk bantu panen, misal tenaga dr tim pruning, ablasi, dll.
4. Gunakan hari libur utk tetap panen. Bila perlu beri harga dan insentif yg menarik.
5. Bantu dg tenaga kutip brondol ibu2 perawatan agar produktivitas panen makin tinggi.
6. Tetap konsisten jaga interval agar bila panen teratasi masalahnya,  tenaga perawatan bisa digunakan lagi.
Demikian beberapa langkah yg bisa dilakukan.


Thursday, July 11, 2019

cara meningkatkan produktivitas kerja karyawan perkebunan

Ada beberapa alternatif yg bisa dilakukan :
- Cari mandor yg tegas dan disegani yg juga orang lokal.
- Buat kondisi yg biasanya dikerjakan org lokal dlm kondisi standar sehingga tdk ada alasan utk dikerjakan ulang.
- Usahakan kurangi tenaga harian alias pekerjaan dikontrakkan.
- Dekati tokoh masyarakat atau ketua adat. Informasikan kondisi logis dan aturan yg berlaku.
- Kalau lahan plasma lebih nyaman sbb kita bisa minta tim plasma ikut memotivasi org lokal. Bisa cost kerja tinggi hasil plasma bisa berkurang.
- Tetap dekati masyarakat dlm batas yg wajar agar kita tdk berkesan sombong dan arogan. Pelan2 sampaikan mengapa standar pekerjaan agar budget tdk cepat habis dan mereka tetap bisa kerja.
Demikian sebagian yg pernah saya lakukan.


Wednesday, July 3, 2019

Viral penggunaan boom spraying alat smprot keluaran amerika di indonesia


Perkebunan merupakan usaha dari sektor pertanian yang banyak menghasilkan devisa. Tanaman kelapa sawit tumbuh menjadi komoditas andalan pertanian dalam negeri. Sebut saja, minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) produk kelapa sawit, memiliki andil sebagai sumber devisa. Pertumbuhan kelapa sawit jauh melampaui komoditas lain seperti karet, teh, kelapa atau kopi. Pada tahun 1997 ekspor CPO indonesia tercatat 2.98 juta ton dengan nilai US$ 1.6 miliar, kemudian meningkat dua kali lipat pada 2002 menjadi 6.38 juta ton dengan nilai US$ 2.48 miliar.

Masalah gulma pada perkebunan tanaman (karet, kelapa sawit, teh, kopi, kina) berbeda dengan pertanian semusim (tebu, jagung). Pada umumnya masalah gulma lebih dirasakan pada perkebunan dengan pertanaman yang luas karena ada kaitannya dengan faktor waktu yang terbatas, tenaga kerja dan biaya dibandingkan dengan pertanaman semusim.
Kerugian yang ditimbulkan akibat gulma di perkebunan kelapa sawit antara lain (1) pertumbuhan tanaman kelapa sawit muda terhambat sehingga biaya pemeliharaan TBM meningkat, (2) produksi TBS menurun karena kompetisi tanaman dengan gulma sehingga menyulitkan kegiatan operasional kebun seperti pemupukan dan panen, (3) ancaman bahaya kebakaran, serta (4) keberadaan gulma yang menempel pada pokok sawit akan menyulitkan pengamatan jatuhnya brondolan sehingga terlambat panen.
Salah satu cara pengendalian gulma dalam bidang yang paling banyak digunakan baik oleh perkebunan besar ataupun petani kecil adalah pengendalian secara kimia dengan herbisida.dari asal usulnya herbisida berasal dari kata kerba (gulma) dan sida (membunuh, sehingga herbisida dapat diartikan sebagai zat kimia yang dapat menekan pertumbuhan gulma bahkan mematikan gulma (Moenandir, 1993).
 Saat ini banyak alat semprot yang beredar dipasaran yang berfungsi untuk memudahkan pekerjaan pengendalian gulma secara kimia, yaitu knapsack inter, Controlled Droplet Aplicator (CDA) dan yang terbaru ini adalah Boom Spraying yang digunakan dengan menggunakan traktor. Semprot pasar pikul dan piringan selama ini menggunakan CDA, apabila memanfaatkan Boom Spraying diharapkan memudahkan pekerjaan tersebut karena tenaga kerja yang dibutuhkan tidak banyak.